KARL MARX, JANGAN LAGI MENJADI HANTU DI DUNIA AKADEMIK

Karl Marx, Jangan Lagi Menjadi Hantu di Dunia Akademik

Laporan oleh: Hera Khaerani

Para pembicara dalam acara Diskusi dan Bedah Buku “Antropologi Marx: Karl Marx tentang Masyarakat dan Kebudayaan” di FISIP Unpad. (Foto: Hera Khaerani)



[Unpad.ac.id, 12/05/2011] Karl Marx, siapa yang tidak tahu tokoh yang satu itu. Namanya seringkali dikutip dalam buku-buku terutama yang membahas isu-isu sosial, budaya, dan sebagainya. Tapi tahukah Anda bahwa nama Karl Marx dulu sempat menjadi seperti sesuatu yang tabu disebut di depan umum. Menurut Ketua Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpad, Dr.Selly Riawanti, dulu Marx sempat menjadi “hantu” bagi kita semua, termasuk di ranah akademik.

Dr.Selly menceritakan bahwa sempat ada masanya di mana saat orang-orang membawa buku Karl Marx dari luar negeri, mereka harus berhati-hati dan biasanya tidak disimpan di bagian atas. Ini dikarenakan Marx selalu diidentikkan hanya pada komunisme, atheisme, dan gagasan-gagasan yang menakuti orang-orang.

Hal itu diutarakannya saat memoderatori acara Diskusi dan Bedah Buku “Antropologi Marx: Karl Marx tentang Masyarakat dan Kebudayaan” karya Dede Mulyanto, di Gedung D lantai 2 Kampus Fisip Unpad Jatinangor. Hadir sebagai pembicara dalam kesempatan tersebut adalah Dede Mulyanto, sang penulis buku yang juga dosen Jurusan Antropologi Fisip Unpad, dan Prof. C.W. Watson sebagai pembahas buku tersebut.

Senada dengan yang diungkapkan Dr. Selly, Prof. Watson juga menceritakan bahwa bahwa pada 1969 silam saat ia pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia, nama Karl Marx tidak boleh disebut-sebut sama sekali. “Itu terjadi walaupun di sekitar orang-orang akademik yang sadar bahwa Marx adalah perintis teori-teori sosial modern,” ungkapnya.

Berbicara lebih lanjut tentang hal itu, Prof. Watson menjelaskan bahwa nasib Karl Marx mirip dengan Charles Darwin di abad 19. Teori evolusi yang Darwin rumuskan, sempat mengalami penolakan keras. Tapi lama kelamaan, teorinya pun tak lagi banyak ditentang pihak gereja karena setelah dipelajari, teorinya memiliki kemiripan dengan ajaran Kristen. Perubahan yang sama terjadi pada Marx dan hal ini menurutnya perlu disyukuri karena menandakan bahwa kita sudah ada di masa di mana kita mulai bisa membedakan Marx sebagai ideologi politis dengan sosoknya sebagai salah satu perintis ilmu sosial dari akhir abad ke-19.

Dengan dilatarbelakangi hal itu pula Dede yang termasuk salah satu dosen termuda dan produktif di Jurusan Antropologi Fisip Unpad, menulis Antropologi Marx: Karl Marx tentang Masyarakat dan Kebudayaan. Menurutnya, Marx memiliki peran dalam perkembangan ilmu sosial. “Gagasan Marx perlu ditawarkan sebagai paradigma ilmu sosial dan perlu juga kita pelajari karena merupakan sumber dari berbagai teori-teori kontemporer tentang masyarakat dan kebudayaan,” sebutnya.

Adapun di antara pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh tokoh yang satu itu adalah bahwa sistem yang kita tinggali saat ini bukanlah sesuatu yang abadi ataupun ajeg, melainkan sebagai hasil pertentangan di arena sosial kemasyarakatan. Marx melihat keadaan dunia sebagai sesuatu yang disebabkan proses sejarah, sementara sejarah tidak hanya terjadi tapi juga berkembang.

Saat ini misalnya,corak produksi dengan sistem upah dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Kita seolah lupa bahwa adanya sistem yang sekarang ini merupakan hasil pertentangan yang terjadi dulu. Padahal, dulu kita mengenal sistem feodal di mana sistem produksi menggunakan hubungan penghambaan. Lalu ada pula sistem perburuhan yang dulu menjadi sistem yang seolah wajar di sejumlah negara.

Sumbangsih lainnya Marx bagi ilmu sosial adalah cara pandangnya terhadap konflik. “Baginya, konflik merupakan sesuatu yang inheren karena pada dasarnya masyarakat memang terbagi, ini karena kepentingannya berbeda-beda,” jelas Dede. Hal ini bertentangan dengan cara pandang yang umum bahwa konflik merupakan sebuah penyimpangan.

Dengan cara pandang yang demikian, maka Marx mengajarkan pada kita untuk bertanya-tanya dan menengok pada latar belakang konflik yang ada. Misalnya saja, kenapa ada ketimpangan kekayaan atau kepemilikan lahan di masyarakat, dan seterusnya.

Melihat banyaknya peran pemikiran Karl Marx bagi ilmu sosial, Dede berharap agar teori-teorinya jangan lagi dianggap di luar ranah akademik atau ilmiah. Selanjutnya meskipun banyak pemikiran Marx masih relevan dengan kondisi saat ini, Dede juga mengingatkan bahwa kita perlu terus mengritik dan memperbaiki pemikiran Marx karena sebagaimana yang diajarkan tokoh itu, kondisi-kondisi di masyarakat senantiasa berubah. (mar)*

Categories

Pengikut