SEKILAS SITUASI POLITIK NEPAL

Sekilas Situasi Politik di Nepal

Ditulis oleh Jesus S. Anam
Sabtu, 31 Juli 2010 14:46


Dahaga rakyat Nepal akan perubahan revolusioner memang masih tertahan. Mata air sosialisme masih mencari celah untuk bisa keluar dan mengairi tenggorokan seluruh rakyat negeri itu. Namun, meski demikian, api perjuangan mereka tetap menyala dan jauh dari tanda-tanda akan redup. Pemogokan besar dengan puluhan ribu massa pada bulan Mei lalu, yang dimobilisasi oleh Partai Komunis Persatuan Nepal-Maois (UCPN-M), yang menuntut pengunduran diri perdana menteri yang baru, Madhav Kumar, menunjukkan keinginan besar rakyat untuk berubah dan memilih jalan sosialisme.

Pemogokan umum ini diserukan oleh kelompok Maois setelah konflik panjang mereka dengan pemerintah sementara yang berdiri setelah berakhirnya perang sipil selama 10 tahun. Kelompok Maois meninggalkan pemerintah setelah pemimpin dan perdana menteri mereka, Puspa Kamal Dahal atau yang lebih dikenal sebagai Prachanda, mengundurkan diri dari jabatannya pada bulan Mei 2009. Pengunduran diri Dahal merupakan protes terhadap pembredelan kebijakannya untuk memecat kepala staf tentara Nepal, Rookmangud Katawal, yang memblokir upaya pengintegrasian sayap bersenjata Maois, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), ke dalam tentara Nepal. Upaya ini terus diperburuk oleh sayap kanan dalam militer. Para kepala pasukan tentara Nepal, yang sangat loyal terhadap keluarga kerajaan, secara terbuka bersekutu dengan partai-partai sayap kanan di dalam pemerintah sementara. Kekuatan-kekuatan reaksioner dalam negeri ini, yang didukung oleh pemerintah India, Cina, dan pemerintah-pemerintah sayap kanan di seluruh dunia, merupakan ancaman besar bagi kepentingan massa pekerja. Namun pemogokan-pemogokan umum dan aksi massa yang telah terjadi merupakan kekuatan banding untuk menghadapi ancaman tersebut. Dan ini bukan pertama kalinya bagi rakyat Nepal.

Perubahan besar dalam sejarah modern Nepal dimulai dengan gerakan massa yang besar pada bulan April 2006, yang akhirnya berhasil menggulingkan pemerintahan monarki otokratik. Massa tidak hanya menginginkan penghapusan sistem monarki, tetapi juga menginginkan demokrasi sejati yang mampu mengakhiri kemiskinan dan kesenjangan.

Pemogokan umum pada tahun 2006 yang diserukan pada awal April oleh Partai Kongres Nepal (NC), Partai Komunis Nepal (UML - Unified Marxist-Leninis), Aliansi Tujuh Partai (SPA), dan Partai Komunis Nepal-Maois (yang dikenal sebagai kelompok Maois), tidak serta merta menghasilkan sebuah ledakan yang berarti. Kemarahan massa pecah melalui pemogokan umum dan penggemblengan massa ke dalam aksi.

Partai-partai yang tergabung dalam Aliansi Tujuh Partai (SPA) menyatakan dengan tegas penentangannya terhadap raja hanya setelah raja berbalik melawan mereka, dengan menggunakan kekuatan militer untuk memegang kendali penuh kekuasaan. Sebelum ini beberapa pemimpin dalam SPA melayani dengan senang hati di bawah raja dan mendukung serangan terhadap kelompok Maois. Tetapi setelah melihat ketidakpuasan dari gerakan massa buruh, petani, dan kaum miskin, serta kesiapan mereka untuk bertindak, sayap kanan SPA tidak punya pilihan lain selain bermetamorfosis menjadi lawan utama kekuasaan raja.

Pada tahap ini, kelompok Maois, yang telah melancarkan pertempuran sengit melawan Tentara Kerajaan Nepal (RNA) pada dekade yang lalu, telah berhasil menguasai sektor-sektor penting di pedesaan. Mereka konsisten menentang monarki dan mendapat dukungan dari penduduk pedesaan dan kelas pekerja. Gerakan massa kelas pekerja dan petani telah menunjukkan kesiapan mereka untuk mendorong pembentukan sebuah tatanan sosial baru. Sementara kelas yang berkuasa tengah berada dalam kebingungan. Dan hanya dengan perspektif, gagasan, program, metode, dan kepemimpinan yang benar, kaum pekerja dan petani mampu mengambil kesimpulan sosialis dan membawa perjuangan pada garis kemenangan. Sebagaimana yang telah dikatakan Trotsky dalam Revolusi Permanen, khususnya di negara-negara kolonial dan semi-kolonial, hanya proletariat dengan didukung oleh kaum tani yang akan membawa segera revolusi demokratik ke arah revolusi sosialis.

Tetapi, ada hal yang perlu dinyatakan di sini, bahwa sebuah revolusi sosialis di suatu negara tidak akan bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama kecuali menyebar di tempat lain. Dalam hal revolusi di sebuah negara kecil seperti Nepal, ini tentu akan menghadapi berbagai serangan dari berbagai pemerintahan kapitalis, khususnya India. Revolusi sosialis yang akan terjadi di Nepal tidak akan bertahan jika hanya berada di ranah nasional, tetapi harus melewati batasan-batasan nasionalnya.

Hidup Sosialisme!

Bangun segera Federasi Sosialis Asia!

---

dipetik dari http://www.militanindonesia.org/internasional/asia/8082-sekilas-situasi-politik-di-nepal.html

Categories

Pengikut