KETIKA DEBU TELAH SIRNA, PIALA DUNIA DAN KEDIKTATORAN

Ditulis oleh Ted Sprague Jumat, 16 Juli 2010 16:57
(http://militanindonesia.org)

Lebih dari 700 juta orang di seluruh dunia menyaksikan Spanyol memenangkan Piala Dunia melawan Belanda. Untuk “La Furia Roja”, dan 46 juta rakyat Spanyol di belakangnya, piala Julies Rimet sungguh adalah sesuatu yang mereka butuhkan di tengah krisis ekonomi terbesar yang sedang mereka hadapi. Piala ini akan memberikan satu kelegaan bagi jutaan yang kehilangan pekerjaan mereka.

Del Bosque, manejer tim Spanyol mengatakan ini sekembalinya dari Afrika Selatan, “Spanyol patut menang. Ini jauh melebihi olahraga. Kita harus merayakan ini dan kami senang bisa mempersembahkan kemenangan ini ke semua penduduk Spanyol.” Di sini kita melihat usaha untuk “menyatukan bangsa”, 20% penganggur, pekerja sementara, buruh murah, dan juga para bankir Spanyol, kapitalis, dan keluarga kerajaan.

Akan tetapi, ketika debu perayaan telah hilang, ketika botol-botol anggur telah kering dan orang-orang bangun dari mabuk mereka, wajah buruk krisis kapitalis akan kembali menatap mereka. Tidak ada piala Julies Rimet dan Henri Delaunay yang cukup untuk menyelesaikan kontradiksi di dalam masyarakat Spanyol. Sirkus telah selesai, dan sekarang kembali ke kesengsaraan di bawah kapitalisme.

Untuk rakyat pekerja Afrika Selatan, ini juga benar. Kebanggaan nasional menjadi tuan rumah dari kompetisi olahraga yang paling populer akan hilang dengan cepat. Kembali kerja, hari ini hari Senin! Soccer City, yang awalnya dilihat sebagai pencapaian nasional Afrika Selatan dan juga sebuah “tanah keramat” dimana Nelson Mandela memberikan pidatonya yang pertama setelah dibebaskan dari penjara, akan segera menjadi kebalikannya. Sebuah stadium multi-milyar yang berdiri di tengah kemiskinan yang memuakkan. Sebuah kemewahan lampu-lampu “Las Vegas’ ketika banyak rakyat yang hidup di dalam kegelapan.

Tetapi bila ada lebih dilema yang bisa diceritakan mengenai Piala Dunia, ini adalah Argentina, yang menjadi tuan rumah dan juara Piala Dunia 1978 di bawah rejim junta militer Jorge Rafael Videla [yang menumbangkan Isabel Peron pada 24 Maret 1976 dan menjadi presiden sebagai anggota dari tiga-orang junta militer]. Ini juga merupakan titel Piala Dunia pertama untuk Argentina, secara ironis juga dengan mengalahkan Belanda 3-1 setelah perpanjangan waktu. Ada sebuah rasa suka cita yang besar, tetapi setelah debu menghilang – dan ini lima tahun kemudian – kejahatan rejim junta yang kejam terungkap dan mengejutkan masyarakat Argentina dan dunia. Diperkirakan antara 9.000 sampai 30.000 komunis, sosialis, aktivis buruh, jurnalis, dll. dibunuh atau “dihilangkan”.

Bertahun-tahun kemudian, Oscar Ortiz, salah satu anggota tim 1978 mengatakan: “Aku akan menukarkan piala ini untuk menghentikan apa yang terjadi selama kediktaturan militer.” Sentimen yang serupa juga dirasakan oleh banyak dari anggota tim 1978. Piala 1978 selalu dilihat dengan perasaan yang bertentangan karena piala tersebut basah kuyup dengan darah.
Argentina pada awal 1970an berada di tahapan perjuangan kelas yang tajam. Pemerintahan populis Peron/Campora menyingkiran kediktaturan polisi-militer pada tahun 1973 ketika mereka memenangkan lebih dari 50% suara. Mayoritas buruh dan kaum miskin kota memilih kaum Peronis sebagai simbol perlawanan terhadap junta militer.

Pada tahun 1973, Ted Grant menulis di koran Militant mengenai situasi di Argentina pada awal 1970an:

“Klik-klik angkatan bersenjata saling menumbangkan secara berturut-turut, sementara taraf hidup dan kondisi rakyat semakin memburuk ... Serangkaian pemogokan umum telah terjadi. Di beberapa daerah ini menyebabkan pemberontakan, dengan pertempuran barikade di jalan-jalan .... Di propinsi Mendoza pada tanggal 4 April 1972, keadaan gawat darurat diumumkan, setelah sebuah pemogokan umum 24-jam untuk menentang kenaikan harga listrik. Di demonstrasi yang selanjutnya, satu orang terbunuh dan 69 terluka karena bentrok dengan polisi. 147 mobil terbakar, 200 jendela toko pecah ...

“Pada bulan Juni 1972, ada pemogokan umum 24-jam di Tucuman. Tentara dan tank-tank dikirim untuk menyingkirkan para mahasiswa dan menghancurkan barikade-barikade jalanan. Pada tanggal 28 Juni 1972, ada demonstrasi-demonstrasi di Buenos Aires, Bahia Blanca, Tucuman, La Plata, dan Mendoza, yang ditumpas oleh tentara dan polisi.

“Para demonstran menduduki balai kota dan stasiun radio di Malargue pada 3 Juli. Tentara terpaksa mengambil alih. Pada tanggal 9 Juli di kota General Rica (propinsi Rio Negro), penduduk dengan paksa menghentikan sebuah parade angkatan bersenjata. Pada tanggal 18 Juli, kota ini ditaruh di bawah militer.

“Di satu daerah ada bentrokan dengan “formasi spesial” Kaum Muda Peronis pada 3 Desember 1972. Jumlah korban adalah: 1 mati, 30 terluka, termasuk 14 polisi.

“Peristiwa-peristiwa ini dapat dilipatgandakan tanpa akhir. Untuk menulis semuanya akan membutuhkan seluruh koran ini. Namun gelombang pasang revolusi yang tidak dapat ditahan oleh rejim para jendral ini semakin meninggi.” (The Argentine Revolution, Ted Grant, 1973)

Di atas gelombang pasang ini pemerintahan Peron/Campora naik ke tampuk kekuasaan dengan sebuah program yang berjalan di antara sosialisme dan kapitalisme, sebuah “jalan ketiga” yang akan membuat jalan ketiganya Blair kecil bila dibandingkan. Pemerintahan populis ini melakukan beberapa tindakan untuk menyenangkan hati para buruh seperti “nasionalisasi berbagai bank yang telah diambil sepenuhnya atau setengahnya oleh pemodal asing di beberapa tahun belakangan ini.”

Akan tetapi, langkah ini pada kenyataan adalah hampa, seperti yang dapat dilaporkan oleh majalah Financial Times pada 29 Juni: “Para bankir dan pengusaha asing yang ketakutan telah diyakinkan oleh Bank Sentral bahwa kebijakan-kebijakan yang telah diumumkan tidak akan seburuk apa yang kelihatannya. ‘Kami bukan orang yang tidak toleran, dan kami juga tidak bermaksud menghancurkan sistem ini’ kata Dr. Alfred Gomez Morales, presiden Bank Sentral, kepada saya minggu ini ... Dia mengajukan argumen mengapa ‘Argentina tetap akan menjadi tempat yang menarik untuk penanam modal asing’.”

Seperti pada tahun 1945-1955, Juan Peron, dengan cara yang Bonapartis, menyeimbangkan kelas buruh dan kelas kapitalis. Dia bersandar pada kedua kelas ini, tetapi pada kenyataannya dia mewakilkan kepentingan kelas kapitalis. Hasilnya tidak akan berbeda sama sekali. Pemerintah Peronis ditumbangkan oleh junta militer pada tahun 1976 seperti pada tahun 1955. Tindakan menyeimbangkan kelas-kelas hanya bisa berhasil bila konsesi-konsesi dapat diberikan kepada kedua kelas tersebut. Pada akhirnya, satu kelas harus mengalah. Kelas penguasa tidak bisa lagi mengandalkan pemerintah Peronis karena mereka tidak dapat mentolerir perjuangan kelas yang tajam yang berkelanjutan, jadi mereka menggunakan junta militer “fasis”.

Kebangkitan junta militer adalah sebuah konter revolusi, salah satu dari banyak konter revolusi pada akhir 1970an yang menutup periode revolusioner yang dimulai pada tahun 1960an di seluruh dunia. Rakyat dikalahkan. Inilah alasan utama mengapa di permukaan tampak bahwa rakyat pekerja Argentina telah melupakan atau mengabaikan puluhan ribu militan kiri yang dibantai dan disiksa selama Piala Dunia 1978. Tidak ada orang yang dapat menyangkal bahwa hanya kira-kira satu kilometer dari stadium River Plate, dimana tim Argentina mengalahkan Belanda dan meraih piala, terletak Sekolah Mekanik Angkatan Laut, pusat penyekapan dan penyiksaan terbesar dari kedikturan militer ini. Di tengah sorak sorai penonton adalah jeritan dari para tahanan yang disiksa.

Kita dapat menanyakan diri kita sendiri: mengapa FIFA dan “komunitas dunia” membiarkan Piala Dunia dimainkan di bawah situasi seperti ini? FIFA pada akhirnya adalah badan olahraga kepunyaan kelas penguasa, yang memenuhi kepentingan kelas kapitalis dalam skala dunia. Junta militer di Argentina sedang dalam misi untuk membabat komunisme, maka dari itu kelas borjuasi dunia diam saja. FIFA dan sponsornya pada saat itu, Coca-cola, mengklaim bahwa mereka tidak berpolitik dan tidak akan mengambil pendirian moral. Mereka hanya dapat melakukan ini karena kebungkaman dari kelas penguasa dunia.

Bila saja ada sebuah pemerintahan revolusioner di Argentina yang sedang dalam misi untuk menghancurkan kapitalisme, yang – daripada menindas kaum komunis – sedang melakukan perjuangan keras melawan kapitalis, tuan tanah, dsb, dan mengadili semua elemen-elemen tersebut yang telah melakukan kejahatan terhadap rakyat, maka tekanan akan diluncurkan kepada FIFA untuk membatalkan Piala Dunia dengan ancaman boikot sedunia seperti pada Olimpiade 1980 di Moskow. Justru Piala Dunia 1978 tetap berlangsung seperti biasanya.

Piala Dunia ini juga dibutuhkan untuk memberikan legitimasi kepada rejim tersebut, dan membawa kesatuan nasional ke masyarakat yang terpecahkan oleh perjuangan kelas, yakni untuk menenangkan kekacauan-kekacauan yang tersisa. Piala Dunia 1978 sungguh adalah suatu berkat untuk para jendral, terutama di sebuah negeri dimana sepak bola sangat dicintai.

Seberapa besar kekalahan kelas pekerja diilustrasikan oleh kenyataan bahwa bahkan para tahanan yang disiksa bersorak-sorai bersama dengan penyiksa mereka dalam mendukung tim nasional mereka, walaupun mereka mengetahui dengan penuh bahwa tim nasional ini adalah timnya junta militer, bahwa Piala Dunia ini adalah proyeknya junta militer untuk mengobarkan sovinisme dan menenangkan massa. Claudio Tamburrini, seorang aktivis politik yang dipenjara dan pemain sepak bola profesional, yang melarikan diri dari salah satu penjara rejim ini pada bulan Maret 1978, menulis 20 tahun kemudian:

“Apa daya tarik olahraga yang memungkinkan para tersiksa dan penyiksa untuk saling memeluk setelah gol tercetak oleh tim nasional? Selama Piala Dunia 1978, rakyat Argentina – termasuk saya sendiri – menggantikan penilaian politik kritis akan situasi negeri ini dengan eforia sport.” (Perfil, 12 Juni, 1998, hal.14)

Kapten “Tiger’ Acosta yang terkenal buruk ini, salah satu penyiksa paling kejam dari Angkatan Laut, dalam satu tutur cerita, masuk ke satu ruang sel setelah pertandingan final karena para tahanan bersorak sorai, “Kita menang, kita menang,” dan kemudian ikut serta dalam eforia yang spontan ini dengan orang-orang yang dia siksa setiap harinya. Dia lalu membawa keluar para tahanan di dalam sebuah mobil untuk menunjukkan kepada mereka bahwa tidak ada orang yang peduli dengan penculikan mereka, bahwa orang-orang hanya peduli dengan Piala Dunia. Salah satu korban ini menceritakan kepada jurnalis Fernandez Moore bahwa dia meminta Acosta untuk membuka jendela supaya dia dapat melihat dengan lebih baik karnival di jalanan. Setelah dia membuka jendela itu, dia berpikir untuk berteriak bahwa dia adalah salah satu “orang hilang”, yang ditahan dan disiksa di sebuah penjara tidak jauh dari sini, tetapi dia lalu menyadari bahwa ini akan sia-sia saja, dan bahwa di tengah suka cita nasional, dalam konteks sebuah gerakan yang sudah kalah, orang-orang hanya akan mengira kalau dia adalah perempuan gila.

Sebegitu parahnya kekalahan kelas pekerja Argentina. Di setiap periode kekalahan, massa menundukkan kepala mereka.

Filosofi sepak bola dari junta militer dalam banyak hal serupa dengan filosofinya fasis, terutama fasisme Italia selama Piala Dunia 1934 dan 1938 dimana tim Italia memenangkan titel. Objektif yang diproklamirkan oleh junta militer ini adalah untuk mengembalikan ketertiban yang hilang. Dalam kata-kata mereka sendiri, mereka bermaksud mencanangkan “moralitas Kristen, tradisi nasional, dan harga diri menjadi seorang Argentina” dan mempromosikan keharmonian antara Negara, kapital, dan buruh. Benito Mussolini dan fasisme Italia juga naik ke tampuk kekuasaan di bawah program seperti itu, menunggangi kekecewaan dari borjuasi-kecil yang letih akan perjuangan kelas yang tidak membawa perubahan akhir pada problem-problem masyarakat.

Bagi kaum fasis Italia, seperti halnya junta militer Argentina, sepak bola yang sangat dicintai di kedua negeri ini adalah sebuah proyek nasional untuk mengartikulasikan “keunggulan bangsa” dan pentingnya persatuan, semua kelas bersatu di bawah sebuah tujuan nasional bersama. Diperkirakan sekitar US$ 700 juta – 10% dari hutang nasional di saat keuangan negara sedang amburadul – dihabiskan oleh rejim ini untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan untuk menjadi tuan rumah.

Filosofi membangun bangsa dan “Manusia Baru” sebagai perwujudan dari kualitas bangsa, Negara, ada di pusat dari pendekatan fasis terhadap olahraga. Jendral Videla, dalam pertemuannya dengan tim sepakbola, mengatakan bahwa pemain sepakbola bertanggungjawab untuk:

“menunjukkan bahwa mereka adalah insan terbaik yang dapat disajikan oleh Argentina kepada jagat raya ... dan mereka harus mendemonstrasikan kualitas dari manusia Argentina. Manusia ini, dalam level individu atau bekerja di dalam sebuah tim, mampu melakukan pekerjaan yang hebat bila dipandu oleh tujuan bersama ... Aku percaya akan kemenangan kalian, sebagai pemenang Piala Dunia, pemenang karena kalian akan menunjukkan keberanian di dalam pertandingan-pertandingan ... dan akan menjadi ekspresi tepat dari kualitas manusia Argentia.” (Suplemento Clarin Mundial, 17 Mei, 1978, hal. 6-7) [Penekanan ditambahkan]

Fasisme Italia, di dalam majalah mingguan fasis Florentina, Il Bargello, menulis demikian selama Piala Dunia 1934:

“[Ini adalah] penegasan kebenaran dari seluruh rakyat, indikasi dari kekuatan fisik dan moralnya, dan bukan hanya fakta olahraga saja. Kami kaum Fasis tidak dapat memisahkan kontribusi semangat nasional ini dari hasil yang harus dicapai. Bekerja di setiap bidang aktivitas manusia, kita berjuang atas nama tanah air, tanah airlah yang ada di atas segala-galanya, seluruh bangsa berpartisipasi untuk tujuan ini, mendorong dan memberi semangat kepada para protagonis yang menjadi tak-bernama tetapi adalah instrumen sadar dari kehendak ini.” .” (‘Gli azzuri nel nome del DUCE’, Il Bargello, 17 Juni 1934) [Penekanan Ditambahkan]

Piala Dunia 1978 ternoda oleh darah kelas buruh. Inilah mengapa kemenangan Argentina pada Piala Dunia 1986, yang mengambil tempat tiga tahun setelah jatuhnya junta militer, lebih diingat dan dirayakan. Piala Dunia yang sebelumnya menyimbolkan sebuah epos trauma yang tidak akan pernah dilupakan oleh kelas pekerja Argentina. Piala Dunia 1986 dalam satu cara menyelesaikan dilema antara rasa cinta rakyat Argentina kepada sepakbola dan bab gelap di dalam sejarah mereka.

Olahraga, seperti halnya seni, pada akhirnya harus bebas dari pengaruh politik, dari ideologi, dari propaganda, dan hanya dengan begitu ia dapat bersemi. Atlit harus bebas untuk mengekspresikan diri mereka sepenuhnya, tanpa kekangan ekonomi – yang merupakan halangan utama bagi atlit di bawah kapitalisme – dan tanpa kekangan politik. Namun, seorang atlit yang hebat adalah seorang atlik yang berkomitmen, mereka yang melalui olahraganya merefleksikan perjuangan kemanusiaan di sekitar mereka, mereka yang mendorong batas-batas manusia secara fisik dan spiritual, seperti Muhammad Ali, Bill Russel, untuk menamakan beberapa dari mereka. Olahraga di bawah kapitalisme telah begitu bangkrutnya, merefleksikan kebangkrutan sistem itu sendiri, sehingga yang kita dapati adalah superstar-superstar yang dibesarkan untuk membuat jutaan dolar dari iklan komersial, penayangan TV, dll. Massa telah diubah menjadi agen yang pasif, sekedar penonton.

Sepakbola pada awalnya adalah sebuah permainan kelas buruh yang dimainkan oleh tim-tim pabrik, tim-tim daerah residensial, dan sebagainya. Ia telah perlahan-lahan direbut dari tangan kelas yang menciptakannya, dan dikembalikan kepada kelas buruh ke dalam bentuk sekarang ini. Sepakbola telah menjadi seperti “sirkus” di bawah Kerajaan Romawi, dimana sebuah sistem yang sedang membusuk, yang sedang menjadi semakin bangkrut, untuk menenangkan massa dan mengikat mereka, menyediakan mereka stadium-stadium seperti Colosseum dimana pertunjukan yang sangat mahal dan besar disajikan. Di masa kini kita tidak punya gladiator yang saling membunuh, atau binatang yang memakan manusia – pembunuhan ini dilakukan di tempat lain – tetapi konsepnya kurang lebih sama.

Kapitalisme hari ini, dan Fasisme di masa lalu, telah memasukkan nasionalisme yang gila ke dalam olahraga. Sosialisme di pihak yang lain akan membebaskan perkembangan olahraga, seperti halnya ia akan membebaskan kesenian, sains, dan kemanusiaan secara umum, dari cengkraman kapitalisme yang mencekik, sehingga semua laki-laki dan perempuan dapat menemukan ekspresi individu dan kolektif mereka sepenuhnya melalui olahraga. Selama Piala Dunia ini, kita mendengar beberapa komentar yang cukup tajam, seperti bagaimana negara kecil seperti Belanda, dengan populasi hanya 16 juta saja, dapat menghasilkan pemain-pemain yang bertalenta – di antara mereka adalah beberapa keturunan Indonesia – sedangkan mantan jajahannya Indonesia, dengan populasi hampir 250 juta, tidak dapat menghasilkan tim sepakbola yang bisa berkompetisi di tingkat internasional. Sosialisme akan membebaskan potensi penuh dari 6 milyar rakyat di seluruh dunia, dan membawa olahraga bukan sebagai kompetisi untuk kebanggaan sovinis nasional tetapi sebagai kendaraan untuk menjunjung pencapaian kemanusiaan, menjunjung tinggi pencapaian rakyat yang terbebaskan dari berabad-abad masyarakat kelas.
---
http://militanindonesia.org/internasional/amerika-latin/8080-piala-dunia-kediktaturan.html

Categories

Pengikut